INFO7. ID, TANGERANG | Proyek pembangunan turap di kawasan Graha Indira, Citra Raya, Kabupaten Tangerang, menuai sorotan setelah ditemukan sejumlah kejanggalan di lapangan.
Berdasarkan hasil pantauan langsung, pekerjaan yang dilaksanakan oleh CV ZMJ Putra diduga tidak memenuhi spesifikasi teknis sebagaimana mestinya. Pemasangan turap diketahui tidak menggunakan sepatu (pondasi dasar) maupun cerucuk sebagai elemen penguat.
Selain itu, proses pengerjaan juga terlihat dilakukan dalam kondisi area yang masih tergenang air. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait kualitas dan daya tahan konstruksi turap ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lokasi proyek juga diduga belum optimal. Sejumlah pekerja tampak tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti helm dan sepatu keselamatan, yang merupakan standar dasar dalam pekerjaan konstruksi.
Temuan lain yang mencuat adalah terkait papan informasi proyek. Nama perusahaan pelaksana diduga hanya ditempel dan menutupi identitas sebelumnya, yakni CV Vania Cipta Aulia. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait transparansi dan kejelasan administrasi proyek.
Salah seorang pekerja yang ditemui di lokasi membenarkan bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut tidak menggunakan sepatu sebagai bagian dari konstruksi dasar. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci terkait teknis pekerjaan.

“Panjangnya sesuai yang ada di papan, Bang. Saya kurang tahu juga karena saya hanya pekerja,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, pihak yang diduga sebagai mandor atau pelaksana proyek saat dikonfirmasi sampai saat ini belum memberikan tanggapan, memilih bungkam.
Ketidaksesuaian pelaksanaan proyek dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) berpotensi menimbulkan sejumlah dampak serius. Secara teknis, konstruksi turap berisiko tidak mampu menahan tekanan tanah maupun air secara maksimal, sehingga rentan mengalami kerusakan dini seperti retak, pergeseran, hingga ambruk.
Dari sisi anggaran, pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi juga berpotensi menimbulkan pemborosan keuangan negara. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kebutuhan perbaikan ulang yang justru menambah beban biaya.
Sementara itu, lemahnya penerapan K3 meningkatkan risiko kecelakaan kerja yang dapat membahayakan keselamatan para pekerja di lapangan.
Atas temuan tersebut, diharapkan instansi terkait segera turun melakukan pengecekan dan evaluasi guna memastikan proyek berjalan sesuai standar teknis dan ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai dugaan ketidaksesuaian spesifikasi maupun penerapan standar keselamatan kerja pada proyek tersebut.
Penulis : Mul






