Cinta yang Datang di Waktu yang Salah

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cerpen

Oleh: Mulyadi Yansah

“Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk memiliki. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan arti keikhlasan.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seluruh tokoh, alur cerita, dan dialog dalam cerpen ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun peristiwa, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan.

Senja perlahan turun, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Di depan sebuah minimarket yang berada di sudut kota, seorang pria duduk sendirian menikmati secangkir kopi. Sesekali ia memandang jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang menuju rumah masing-masing.

Baginya, sore itu tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hingga suara deru sepeda motor memecah keheningan.

Seorang wanita datang dan memarkir kendaraannya tak jauh dari tempat pria itu duduk. Wajahnya tampak lelah, tetapi senyum tipis tetap menghiasi wajahnya. Tanpa disengaja, pandangan mereka saling bertemu.

Awalnya hanya saling menoleh.

Lalu saling tersenyum.

Beberapa menit berlalu. Sang pria akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.

“Halo… salam kenal.”

Wanita itu menoleh sambil tersenyum ramah.

“Salam kenal juga.”

Sapaan sederhana itu menjadi awal dari sebuah kisah yang tak pernah mereka bayangkan.

Mereka berbincang tentang hal-hal sederhana. Tentang pekerjaan, cuaca, lalu lintas yang semakin padat, hingga cerita ringan mengenai kehidupan sehari-hari. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Matahari tenggelam, lampu-lampu jalan mulai menyala, tetapi percakapan mereka belum menemukan akhir.

Sejak hari itu, keduanya beberapa kali kembali bertemu.

Kadang secara tidak sengaja.

Kadang memang saling menunggu.

Mereka mulai bertukar nomor telepon. Pesan singkat yang awalnya hanya sekadar menyapa perlahan berubah menjadi percakapan panjang setiap malam.

“Sudah makan?”

“Lagi sibuk ya?”

Baca Juga :  Jalin Sinergitas Bersama Pemdes, Ketua GN-PK dan FWHTT Sambangi Kantor Kecamatan Sukamulya

“Jangan lupa istirahat.”

Kalimat-kalimat sederhana itu perlahan menghadirkan rasa yang tak pernah mereka rencanakan.

Mereka merasa saling didengarkan.

Saling dipahami.

Dan saling menguatkan.

Hari demi hari berlalu. Perasaan nyaman berubah menjadi kasih sayang.

Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Suatu malam, di tengah rintik hujan yang membasahi kota, wanita itu mengirim pesan.

“Ada sesuatu yang harus aku jujur kepadamu.”

Pria itu membaca pesan tersebut dengan perasaan tak menentu.

“Aku sudah menikah.”

Jari pria itu seketika berhenti bergerak. Matanya terpaku pada layar ponsel.

Beberapa saat kemudian ia membalas.

“Kalau begitu… kita senasib.”

Wanita itu terdiam.

“Maksudmu?”

“Aku juga sudah menikah.”

Sejak malam itu, dunia mereka terasa berubah.

Tak ada lagi tawa yang sebebas sebelumnya.

Tak ada lagi percakapan yang benar-benar membuat hati tenang.

Mereka sadar bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka hadir pada waktu yang salah.

Mereka sama-sama telah memiliki pasangan.

Sama-sama memiliki keluarga yang harus dijaga.

Mereka pernah berusaha menjauh.

Pernah saling memblokir nomor telepon.

Pernah berjanji untuk tidak saling menghubungi lagi.

Namun setiap kali mencoba melupakan, hati justru semakin merasakan kehilangan.

Pada suatu sore, mereka kembali bertemu untuk terakhir kalinya.

Tak ada senyum seperti biasanya.

Tak ada canda.

Yang ada hanya keheningan.

Wanita itu menundukkan kepala.

“Aku tidak pernah berniat seperti ini. Aku hanya merasa nyaman saat berbicara denganmu.”

Pria itu mengangguk pelan.

“Aku juga.”

Air mata mulai mengalir di pipi wanita itu.

“Kalau memang kita saling menyayangi, kenapa harus dipisahkan keadaan?”

Pria itu menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Mungkin karena Tuhan ingin mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.”

Baca Juga :  Warga Menguasai Lahan 438,93 Hektar : Apakah Sah Secara Hukum Atau Tidak ?

Wanita itu terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa begitu berat untuk diterima.

“Aku takut kehilanganmu,” ucapnya lirih.

Pria itu menatap wanita tersebut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Aku juga takut kehilanganmu. Tapi aku lebih takut jika kebahagiaan kita dibangun di atas luka orang-orang yang telah mempercayai kita.”

Tangis wanita itu pecah.

Ia menyadari bahwa cinta memang tidak pernah salah.

Namun manusia selalu memiliki pilihan untuk menentukan langkahnya.

Sore itu menjadi pertemuan terakhir mereka.

Tak ada pelukan.

Tak ada genggaman tangan.

Tak ada janji untuk bertemu kembali.

Yang tersisa hanyalah ucapan terima kasih karena pernah saling menguatkan dalam perjalanan hidup yang singkat.

Sebelum berpisah, pria itu berkata pelan,

“Jika suatu hari nanti kita mengenang semua ini, jangan ingat sebagai kisah yang gagal. Ingatlah bahwa kita pernah memilih melakukan hal yang benar, meski hati harus terluka.”

Wanita itu mengangguk sambil menghapus air mata.

Mereka berbalik arah.

Melangkah menuju kehidupan masing-masing.

Meninggalkan rasa yang tak pernah sempat memiliki nama.

Meninggalkan kenangan yang akan tetap hidup dalam diam.

Senja masih akan datang setiap hari.

Bangku di depan minimarket itu akan tetap ada.

Orang-orang akan terus datang dan pergi tanpa pernah mengetahui bahwa di tempat sederhana itulah pernah lahir sebuah kisah tentang dua hati yang dipertemukan pada waktu yang salah.

Mereka tidak kalah oleh cinta.

Mereka memilih menang atas diri sendiri.

Karena pada akhirnya, cinta yang paling dewasa bukanlah tentang memiliki, melainkan tentang menjaga kehormatan, menepati janji, dan berani merelakan demi kebahagiaan orang-orang yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan.

Tamat.

Berita Terkait

Abrasi Dan Tranformasi Pantai Utara Tangerang : Harapan Menuju Kemajuan Tanpa Mengorbankan Lingkungan dan Masyarakat
Peran Penting Penegak Hukum dalam Menjaga Stabilitas dan Keadilan di Indonesia
Menanamkan Nilai Toleransi sejak Dini
Musyawarah untuk Mufakat: Pilar Demokrasi yang Wajib Dijaga
DPD PUAN Kabupaten Tangerang Gelar Buka Puasa Bersama Muhammad Rizal DPR RI
Malam Tahun Baru Imlek Warga Keturunan Tionghoa Padati Vihara Punna Karya
Kapolres Metro Tangerang Kota Himbau Warga Untuk Kunci Ganda Kendaraan Bermotor Saat Parkir
Masyarakat di Tangerang Raya Inginkan Pemimpin Berkualitas dan Brintegritas
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 19:56 WIB

Cinta yang Datang di Waktu yang Salah

Kamis, 23 Januari 2025 - 11:12 WIB

Abrasi Dan Tranformasi Pantai Utara Tangerang : Harapan Menuju Kemajuan Tanpa Mengorbankan Lingkungan dan Masyarakat

Selasa, 10 Desember 2024 - 15:11 WIB

Peran Penting Penegak Hukum dalam Menjaga Stabilitas dan Keadilan di Indonesia

Senin, 2 Desember 2024 - 13:44 WIB

Menanamkan Nilai Toleransi sejak Dini

Senin, 2 Desember 2024 - 10:31 WIB

Musyawarah untuk Mufakat: Pilar Demokrasi yang Wajib Dijaga

Berita Terbaru

Artikel

Cinta yang Datang di Waktu yang Salah

Minggu, 28 Jun 2026 - 19:56 WIB

Info7 Update

JPK RI Banten Satukan Langkah, Berbagi Berkah dengan Anak Yatim

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:01 WIB